top of page

Teknologi Imersif LZY Hidupkan Ritual Nusantara di Pameran Cross Musea Pertiwi Surabaya

Museum Dr. Soetomo, Surabaya, 2 Juni 2026 — Pameran lintas museum bertajuk PERTIWI, yang berarti Penghormatan Bagi Bumi Indonesia resmi dibuka di Museum Dr. Soetomo, Jl. Bubutan 84–85 Surabaya. Berlangsung selama 13 hari hingga 14 Juni 2026, pameran yang diselenggarakan oleh UPTD Pengelolaan Museum dan Gedung Seni Budaya ini menghadirkan pengalaman budaya yang berbeda dari pameran museum pada umumnya — sebuah perjalanan imersif menelusuri enam ritual siklus kehidupan manusia Indonesia, yang dihidupkan lewat sentuhan teknologi modern dari LZY Visual.


Menggandeng tiga museum terkemuka — Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Museum Mpu Tantular Sidoarjo, dan Museum Etnografi serta Pusat Kajian Kematian Universitas Airlangga Surabaya — pameran PERTIWI menjadi ruang refleksi kolektif tentang bagaimana tradisi Nusantara, dari kelahiran hingga kematian, menyatukan keberagaman bangsa di atas satu tanah yang sama.


Ruang imersif pameran cross musea pertiwi

Kata Pertiwi berasal dari bahasa Sanskerta Prthivi, bermakna bumi, tanah, ibu. Dalam semangat itulah pameran ini dirancang: bukan sekadar ruang pajang artefak, melainkan sebuah medium pengalaman yang mengajak pengunjung merasakan, bukan hanya melihat.

Misi tersebut mendapat wujud nyata melalui kehadiran LZY Visual, studio kreatif berbasis teknologi imersif dan interactive experience yang berbasis di Surabaya. LZY dipercaya merancang dan mengeksekusi lapisan teknologi di setiap zona ritual pameran — mengubah koleksi museum menjadi narasi hidup yang bisa dirasakan langsung oleh pengunjung.


Bertemu Dr. Soetomo Secara Virtual di Pintu Masuk

Hal pertama yang menyambut pengunjung begitu memasuki Museum Dr. Soetomo adalah sebuah pengalaman yang tak terduga: Photobooth AI berbasis Augmented Reality (AR) yang memungkinkan mereka berfoto bersama sosok virtual Dr. Soetomo — pahlawan nasional yang juga menjadi nama museum ini.

Instalasi AR ini dirancang LZY sebagai "gerbang" sekaligus pembuka percakapan antara masa lalu dan masa kini. Pengunjung tidak hanya memotret diri di depan foto hitam putih seorang tokoh sejarah, melainkan hadir secara visual dalam satu bingkai yang sama bersamanya — sebuah cara baru untuk merasakan kedekatan dengan sosok yang selama ini hanya dikenal dari buku teks.


Zona Ritual Kelahiran: Masuk ke Rahim Imersif

Di lantai pertama, pengunjung memasuki zona Ritual Kelahiran yang mengangkat tradisi mitoni — upacara tujuh bulan kehamilan dalam adat Jawa sebagai doa selamat bagi ibu dan calon bayi. Koleksi utama zona ini adalah Keris Lurus Dhapur Brojol dari Museum Sonobudoyo, simbol keselamatan dan kelancaran kelahiran.

LZY menghadirkan Ruang Imersif yang mengelilingi pengunjung dengan konten visual yang diproyeksikan pada dinding — suasana ritual mitoni dengan ornamen bunga, wangi-wangian melati, dan alunan doa yang membawa pengunjung seolah hadir langsung dalam momen sakral tersebut. Layar imersif dengan immersive mapping menjadikan ruangan bukan sekadar latar, melainkan bagian dari narasi itu sendiri.


Zona Ritual Kedewasaan: Wayang yang Bercerita Sendiri

Naik ke lantai dua, zona Ritual Kedewasaan menampilkan koleksi wayang Wisanggeni, Arjuna, dan Batara Guru dari Museum Sonobudoyo — tiga figur yang merepresentasikan perjalanan seorang anak menuju kedewasaan melalui lakon Wisanggeni Lair.

LZY melengkapi zona ini dengan konten informatif pada layar TV yang menceritakan makna dan konteks setiap tokoh wayang secara naratif dan visual — memastikan pengunjung, terutama generasi muda, memahami kedalaman filosofi di balik benda-benda koleksi yang dipajang.


Zona Ritual Pertanian: Panen Raya dalam Genggaman Tangan

Zona Ritual Pertanian menghadirkan koleksi Tatal — alat petungan atau penghitung musim tanam peninggalan Kerajaan Blambangan dari Museum Mpu Tantular — sebagai representasi kearifan lokal masyarakat agraris Nusantara dalam menyelaraskan diri dengan ritme alam.

Di sini, LZY menghadirkan pengalaman paling sensasional dalam pameran ini: konten Virtual Reality (VR) tentang ritual panen raya. Melalui headset VR, pengunjung dibawa langsung ke tengah hamparan sawah yang menguning, menyaksikan prosesi syukur panen dengan seluruh nuansa visual dan audio yang membungkusnya. Ini bukan sekadar video — ini adalah kehadiran.


Zona Ritual Pernikahan: Coba Batik Warisan Leluhur dengan AI

Zona Ritual Pernikahan menampilkan tiga koleksi batik tulis bersejarah dari Museum Sonobudoyo: KBT Nitik Cakar Ayam, KB Yogyakarta Sidomukti, dan KB Truntum Gurdha — masing-masing sarat makna dan doa bagi kehidupan rumah tangga yang harmonis.

LZY menghadirkan sentuhan paling interaktif di zona ini: AI Photobooth Batik Try On. Teknologi kecerdasan buatan ini memungkinkan pengunjung "mengenakan" motif batik tradisional secara virtual — melihat diri mereka sendiri berbalut Sidomukti atau Truntum Gurdha tanpa harus mengangkat selembar kain pun. Selain menyenangkan, instalasi ini menjadi cara yang efektif untuk mendekatkan pengunjung dengan makna filosofis di balik motif-motif tersebut.


Zona Ritual Kematian: Artefak yang Berbicara saat Didekati

Zona penutup pameran adalah Ritual Kematian — yang paling kontemplatif dan paling berani secara kuratorial. Menampilkan Tomako Batu dari Suku Sentani Papua dan replika mumi Papua dari Museum Etnografi UNAIR, zona ini mengajak pengunjung merenungkan bahwa kematian bukan akhir, melainkan bagian dari siklus Pertiwi.

LZY merancang instalasi interactive touch information pada layar TV dengan teknologi berbasis proximity sensor: ketika pengunjung mendekatkan diri pada sebuah artefak, informasi mendalam mengenai benda tersebut secara otomatis muncul di layar terdekat. Tidak ada klik, tidak ada QR code — cukup mendekat, dan artefak itu pun bercerita. Pencahayaan yang sengaja dibuat remang dan audio ambience yang hening memperkuat nuansa kontemplatif zona ini.


Museum sebagai Ruang Hidup, Bukan Gudang Koleksi

Kolaborasi antara UPTD Pengelolaan Museum dan Gedung Seni Budaya Surabaya dengan LZY Visual dalam pameran PERTIWI ini menjadi bukti nyata bahwa museum bisa — dan harus — berevolusi. Dengan menggabungkan kekayaan koleksi artefak otentik dengan teknologi AR, VR, AI, dan interactive experience, pameran ini berhasil menjembatani jarak antara warisan budaya leluhur dengan cara hidup dan cara belajar generasi hari ini.

Bagi LZY Visual, PERTIWI bukan sekadar proyek. Ini adalah pernyataan tentang bagaimana teknologi imersif bisa menjadi penjaga tradisi yang paling terdepan — memastikan nilai-nilai Pertiwi terus hidup, terasa, dan relevan bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di bumi yang sama.

Pameran Cross Musea "PERTIWI" terbuka untuk umum mulai 2 hingga 14 Juni 2026 di Museum Dr. Soetomo, Jl. Bubutan 84–85 Surabaya, setiap hari pukul 08.00–15.00 WIB. Tiket masuk gratis untuk pelajar dan mahasiswa.

bottom of page